Langsung ke konten utama

ALTAR GREEN

-prolog

***
            Karena kehidupan itu layaknya sebuah teka-teki. Kau boleh saja memecahkannya lalu muncul sebagai pemenang. Atau pilihan lainnya, kau boleh saja berdiam diri, membiarkan orang lain menyelesaikan teka-teki itu dan mengambil keuntungan dari sana. Sekarang tentukan pilihanmu, kau ingin menjadi yang mana. Menurutku, 1 hal yang perlu kau tanamkan dalam dirimu, Percayalah kau mampu!
            Namaku Ivette. Aku tidak pernah menyesal menjalani setiap detik kehidupanku di tempat ini. Meskipun aku tahu aku terlahir sebagai sosok yang istimewa —seperti yang selalu mereka katakan, se-istimewa hujan di mata kelompokku. Tidak ada niatan untuk meninggalkan tempat ini.
            Kami —aku dan kelompokku— tinggal di sebuah pedalaman hutan yang jarang dikunjungi oleh orang luar. Altar Green— begitu kami menyebutnya. Rumah kami didirikan di batang-batang pepohonan yang telah berumur ratusan atau mungkin jutaan tahun. Kami tinggal untuk menjaga hutan dan memenuhi kebutuhan bersama. Ada suatu ritual yang menurutku "sedikit tidak masuk akal". Jika seorang bayi keturunan kelompok kami lahir ke dunia, kami semua akan berbondong-bondong pergi ke rumah satu-satunya penafsir yang hidup di kelompok kami. Di sana kami akan mengadakan ritual untuk memanggil roh leluhur. Kami akan bertanya kepada salah satu roh leluhur tentang apa yang harus bayi itu kerjakan kelak ketika tumbuh dewasa. Dan setelah besar nanti, hal yang telah ditentukan dalam ritual tersebut harus dikerjakan oleh si bayi. Tak ada kompromi, semua orang harus mematuhinya. Tapi ada pengecualian untuk keluarga ketua kelompok. Mereka berhak menjadi apa yang mereka mau. Dan anak  sulung ketua kelompok tentu saja nantinya akan menggantikan ketua yang lama jika telah meninggal dunia. Begitu pula dengan jabatan penafsir, jabatan ini diturunkan secara turun-temurun kepada anak sulung mereka.
            Saat aku lahir ke dunia, aku ditandai—istilah yang digunakan saat mereka melakukan ritual itu— oleh seorang wanita bermata besar dengan kulit gelap, bernama Circe. Circe merupakan generasi ke 11 para penafsir.  Dan saat itu aku ditandai sebagai seorang pelayan. ketika dewasa. Maka, inilah aku sekarang, Ivetee si pelayan. Pelayan dalam kelompok kami, diperuntukkan kepada keluarga ketua. Kami memulai pekerjaan kami sejak berumur 15 tahun. Sebelum berumur 15, kami mendapatkan pelajaran dan pelatihan dari orang-orang yang sudah profesional yang biasa kami sebut pelatih.
            Macam pekerjaan di Altar Green cukup beragam. Contohnya Dad, beliau seorang pengumpul kebutuhan. Setiap bulannya beliau pergi ke luar hutan untuk membeli barang-barang keperluan kami. Ya, seperti pakaian dan barang lainnya yang tidak bisa di dapatkan di hutan. Pertama, beliau harus mengambil beberapa bahan makanan di lumbung untuk menjualnya di luar hutan. Setelah memiliki cukup alat tukar, beliau akan membelanjakan keperluan kami secara merata. Banyak lagi pekerjaan lain di desa kami, ada petani sayur, petani umbi, pelatih anak, perawat pepohonan, juru masak, ahli penyembuh, penangkap ikan dan lain-lain.
            Aku beruntung bisa menjadi pelayan. Tuan Herrick memberiku tugas yang begitu mudah. Aku diperintahkan untuk melayani dan menemani putra sulungnya, Vinn. Setidaknya dia adalah teman sekelasku saat masih menerima pelatihan. Saat ini dia telah menjelma menjadi pemuda yang menurutku... cukup tampan. Kulitnya kekuningan, badannya tinggi dan tegap, matanya... biru kelam. Vinn sangat pendiam, tatapannya sering terlihat kosong, ia juga sering menggumam tak jelas. Jika aku menanyakan apa maksud gumamannya ia akan menjawab dengan kata-kata yang sulit dipahami. Yang sangat ku sukai darinya adalah sikapnya yang lembut, mungkin dia pemuda paling lembut yang pernah ku temui.
            Vinn dan adiknya Aileen sering mengadakan petualangan secara diam-diam. Karena aku kini bertugas mengasuhnya, aku pun ikut dalam setiap petualangannya. Secara tidak langsung hobinya telah menjadi hobiku juga. Sebenarnya keluar dari area tempat tinggal kami adalah hal terlarang bagi semua anggota kelompok, kecuali bagi para pengumpul kebutuhan dan penangkap ikan. Tapi siapa peduli? Aku hanya menjalankan tugasku, menemani Vinn dan Aileen menjelajah bagian hutan yang lain.
            Kelompok kami memang cukup aneh. Dalam lingkungan kami, kami tak mengenal adanya alat tukar seperti yang diperlukan jika kami keluar hutan. Di sini kami membagi rata apa yang telah kami hasilkan. Setiap pagi dan menjelang senja kami akan berkumpul di bawah pohon untuk makan bersama apa yang telah dihidangkan juru masak. Sehari-harinya kami selalu makan hasil sayuran dan umbi. Kami tidak makan daging hewan, karena leluhur percaya bahwa daging yang awalnya berlumur darah itu, darahnya tak akan bersih meski telah dicuci. Itu semua terjadi karena seorang penyihir setengah hewan pernah mengutuk kelompok kami. Dan jika tetap memakannya, sifat kami akan seperti hewan. Mungkin aneh mendengarnya, tapi aku percaya saja.
            Hujan bagi kelompok kami merupakan suatu anugrah. Jika hujan turun kami akan bergembira. Menari-nari dan bermain alat musik di bawah guyuran air hujan. Layaknya tumbuhan yang menjadi segar setelah terguyur air hujan, kami akan merasa seperti itu juga. Setelah hujan usai, para penangkap ikan akan bertugas menangkap sebanyak-banyakknya ikan. Ikan-ikan itu akan dibakar lalu kami makan bersama-sama. Daging ikan entah kenapa tidak termasuk hitungan dalam daging hewan yang tidak boleh dimakan itu. Ada desas-desus bahwa dulunya ikan dan penyihir setengah hewan itu bermusuhan, sehingga penyihir itu tak melarang kami memakan daging ikan. Jadi bisa dipastikan ikan adalah makanan termewah dalam kelompok kami.
            ***
            Semalam Vinn mengabarkanku bahwa dia dan Aileen tak akan pergi berpetualang lagi. Saat aku menanyakan alasannya, Vinn menjawab, “Harus ada yang berhenti sebelum ada harimau terbangun. Meskipun begitu, seorang terpilih boleh melanjutkannya karena ia memiliki keistimewaan. Sehingga harimau tidak akan terbangun untuknya.” Lagi-lagi aku tak mengerti apa yang Vinn katakan. Sebelum aku pulang ke rumah, Vinn sempat memberikan pesan lagi padaku. “Tetaplah kau di jalanmu. Jangan berhenti berpetualang. Aku yakin kegelapan tidak akan selamanya membelenggumu. Kau akan bebas ketika nanti kau temukan semak penjerat. Ingatlah 9 tahun yang lalu, hal apa yang diucapkan secara sarkatis oleh sang penyelamat.”
            Semak penjerat? Sang Penyelamat? Aku tahu itu sebuah kode. Tapi apa yang dimaksudkan oleh Vinn? 18 tahun mengenal dirinya —sejak kami masih sama-sama bayi yang tak tahu menahu tentang apa pun, tak membuatku memahami sedikit saja teka-teki yang dibuatnya. Yang aku paham adalah bahwa aku tetap harus berpetualang. Itu kan yang ia bilang? Dan itu merupakan perintah, harus ku patuhi.


To be continue…

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reborn?

Hai, Detik ini akhirnya aku tersadarkan bahwa gelap bukanlah alasan untuk terus terpuruk. Orang-orang selalu membuat alasan atas kesalahan yang telah dilakukannya. Itu dilakukan untuk membuat dirinya merasa lebih baik. Dan ya, aku adalah salah satu dari orang-orang itu. Dulu aku sempat berpikir bahwa aku adalah orang yang berpikiran terbuka. Dulu aku sempat berperilaku seolah-olah aku adalah orang paling baik dan bijaksana. Dan dulu aku sempat mengabaikan fakta bahwa aku adalah salah satu contoh dari kepalsuan. Aku terkurung di dalam waktu. Dan bukannya berusaha untuk membebaskan diri, aku malah membuat diriku nyaman dalam penjara semu itu. Bukankah sudah jelas orang semacam apa aku ini? Dan pada takdir yang berhasil membuatku termenung, aku tahu bahwa pada saat yang bahkan tak pernah terbayang, takdir sedang menuntunmu menemukan jalan yang tepat. Dan pada saat itu tiba, pilihan sedekat itu dengan nadimu. Lalu apakah kau benar-benar ingin terlahir kembali? Dan harus kau tah...

Terjebak

            Kesalahan pertama yang dilakukan akan berbuntut panjang pada kesalahan-kesalahan berikutnya. Salahku, membiarkan diriku larut dalam mengagumimu. Tak melawan saat candu-candu itu mulai membentuk rasa yang terlalu pekat. Dan bodohnya, aku baru menyadari bahwa semuanya terlambat. Aku telah meracuni diri sendiri. Saat ini, aku hanya perlu menunggu waktu untuk benar-benar mati.             Ratapan penyesalan kini tak berarti. Sesekali aku berharap akan datangnya sebuah penawar dari racun yang ku teguk sendiri. Memahami fakta bahwa rasa kadangkala menjadi bumerang untuk pemiliknya. Karena tak semua perasaan itu berbalas. Tak semua yang indah bisa kita raih. Tak semua yang indah itu baik. Dan kenyataannya, yang ku pikir indah adalah asal dari racun yang terus menyakitiku.             Seharusnya aku tahu. Ada batasan...